MOSI TJOKROAMINOTO “BARU”: KEBANGKITAN NASIONAL “BARU”

MOSI TJOKROAMINOTO BARU: KEBANGKITAN NASIONAL BARU

Aji Dedi Mulawarman

Dosen Universitas Brawijaya

Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam

Disampaikan dalam acara Launching Buku dan Orasi Kebangsaan yang diadakan oleh Pusat Studi Pemikiran Islam Nusantara, Hotel Bidakara, 20 Mei 2015

Bismillahirrahmaanirrahim…

Ushwah sakral Rasulullah, Muhammad SAW, Ummati-Ummati-Ummati. sebagai implementasi Surat Ash-Shaff bahwa keutamaan berjuang dalam barisan ummah yang teratur dan tersusun kokoh, dengan harta dan jiwa sepertinya adalah Simbol Perjuangan Bapak kita semua, Jang Oetama, HOS Tjokroaminoto. Bagaimana Pak Tjokro yang seorang ningrat dan lulusan sekolah Pamong Praja di awal abad ke 20 berubah menjadi pejuang rakyat dan kemerdekaan?

Pak Tjokro hidup di masa ketika masyarakat nusantara telah terbentuk dalam dua mental yang merusak. Pertama, Mental Pasrah Rakyat, yaitu Mental Subordinat tanpa daya dari masyarakat, wong cilik, wong kromo, begitu Pak Tjokro menyebutnya. Masyarakat bawah telah habis energi, mental, dan fisiknya, bahkan harta, tanah, serta keterikatan sosialnya, karena represi tak berkesudahan. Kedua, Mental Ambtenaar, Priyayi bermental Londo Bulak, Boyo Putih, atau seperti dikatakan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Cecunguk, ya itulah refleksi pejabat negeri, trah kebangsawanan yang dilorot jadi pamong praja pelaksana kuasa Ratu Belanda, serta para saudagar, yang hanya mempertahankan zona nyaman, demi self interest maupun social interest. Caranya? Tunduk dan menjilat Londo Asli sekaligus menginjak Wong Kromo.

Pak Tjoko memilih Jalan Ketiga, Jalan Pergerakan Berkesadaran, bukan hanya blusukan mendengar keluh kesah wong kromo, bukan pula adaptif atas perilaku keningratannya. Beliau menanggalkan simbol priyayi, pangkat dan zona nyaman, memilih menjadi bagian wong kromo sekaligus melakukan Penyadaran Penyadaran Nusantara, melalui Zelfbestuur, pemerintahan sendiri, membawa nasionalisme ber-tuhankan Allah, bukan “benda”.

Dalam rangka menguatkan hal tersebut Pak Tjokro mendidik 3 tokoh nasional, Soekarno – Presiden Nasionalis Religius,; HAMKA, sastrawan religius, penggiat Masyumi dan ketua MUI; dan Kartosoewirjo, Sang Proklamator Negara Islam Indonesia. Tak ada selintaspun dalam pikiran Pak Tjokro mendidik dan memraktekkan Komunisme, apalagi Kapitalisme, yang saat ini berevolusi menjadi Neoliberalisme, karena keduanya anti Tuhan. Beliau menyebut Komunis bertuhankan benda, sedangkan Kapitalisme, Het Zondinge Kapitalisme, Kapitalisme yang Berdosa. Semoga kita segera berbenah menuju Zelfbestuur Sejati. Artinya, mengapa di era kemerdekaan saat ini, hanya menyematkan Pancasila, bila itu dilihat sebagai representasi terbaik pemikiran Tjokroaminoto melalui kadernya, Soekarno, tetapi praktik kebudayaan, relasi sosial, politik, ekonomi, bahkan APBN dan seluruh aktivitas teknis turunannya bergaya Neoliberal? Semoga Pak Tjokro tidak menangis melihat kita hari ini.

Pak Tjokro juga telah memberi Jejak Perjuangan dalam menyiapkan kemerdekaan dengan cara, pertama, Politik Konsolidasi Organisasi, gerakan berjiwa kebersamaan. Hasilnya, dari 2000 anggota per Juni 1912, tujuh tahun kemudian, menjadi 2,5 juta anggota, prestasi berlipat2 yang tak tertandingi organisasi apapun di jaman itu. Penguatan organisasi dilakukan dengan tahapan melalui Sarekat Islam menuju Politik Hijrah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) dan puncaknya Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Kedua, Gerakan Sosial-Ekonomi, sejak 1912, melalui koperasi, pendidikan, pertanian, pembelaan terhadap hak-hak kepemilikan, blusukan dan penyadaran komunitas lewat kebudayaan dan pergerakan organisasi, sampai kajian Keislaman-Politik-Sosial-Budaya. Khusus mengenai pendidikan, beliau menggagas Moslem Nationaal Onderwijs sebagai ruh sekolah SI. Hari ini masih pula dapat kita lihat Sekolah Tjokroaminoto dan Perguruan Tinggi di berbagai daerah di Indonesia.

Ketiga, Penyebaran Ideologi Sosialisme Islam yang fenomenal. Setelah melucuti Komunisme yang menjangkiti anggota SI, Pak Tjokro menulis karya besar ideologis SI, Islam dan Sosialisme tahun 1924. Sosialisme Islam kemudian dipayungi Substansi Puncak Islamnya, berjudul Memeriksai Alam Kebenaran tahun 1928 (disampaikan pada Kongres Jong Islamiten Bond ke-4). Karya turunannya kemudian adalah Tarikh Agama Islam, Program Asas dan Program Tandhim beserta Tafsirnya tahun 1931.

Keempat, Melakukan Gerakan Relasional, aktif dan menyampaikan Mosi Tjokroaminoto di Volksraad (Dewan Daerah) bersama Politieke Concentratie, membentuk gerakan kebudayaan Jawa Dwipa, gerakan Islam melalui Tentara Kanjeng Nabi Muhammad, membidani federasi nasional, PPPKI (Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) tahun 1927. Di tingkat Internasional menjadi ketua Kongres Al-Islam tahun 1922, kemudian diundang mengikuti Kongres Umat Islam se-Dunia (Muktamarul Alam Islamy Farulhim bi Syarkiyah) di Mekkah 1926 bersama KH Mas Mansyur. Tahun 1928 membidani terbentuknya Majelis Oelama, dimungkinkan inilah awal Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sudah saatnya kita tidak hanya kagum dan mengulang-ulang penuh basa-basi atas ungkapan-ungkapan beliau. Mari kita melangkah nyata dalam kebersamaan, berserikat, menuju kejayaan negeri sebenarnya, berjiwa Pak Tjokro, Jiwa (Ruh) Sarekat Islam Baru, KEBANGKITAN NASIONAL BERJIWA TJOKROAMINOTO. Pak Cokro adalah milik Bangsa. Tidak perlu ada lagi Trah Genetis, Biologis maupun Ideologis.

Saat ini kita menghadapi musuh lama berwajah baru, bukan lagi Kolonialisme Fisik masa Pak Tjokro, yaitu politik cultuurstelsel-liberal-ethics Belanda, tetapi Kolonialisme Kesemestaan, Cultuurstelsel Global, Neoliberalisme Global, dan Etika Global. Cultuurstelsel Global direfleksikan misalnya pada subordinasi buruh pabrik yang makin tergusur menjadi mesin produk global. Menjadi wajar bila keresahan buruh makin hari makin menjadi. Masalahnya, buruh-buruh pabrik tersebut merupakan migran desa berusia produktif daerah-daerah pertanian potensial. Hal ini dapat dilihat dari Sensus Pertanian 2013 yang menunjukkan, sekitar 25 juta rumah tangga petani kita didominasi perempuan (76,84%) dan petani gurem (55,33%). Petani distigma negara bukan menjadi pusat dari kedaulatan pertanian, tetapi sebagai pekerja dan penyedia tanah untuk konsumsi nasional dari perusahaan multinasional atas nama ketahanan pangan. Belum lagi kasus Samin versus Semen yang juga dapat menjadi simbol perlawanan rakyat atas kebutuhan papan masyarakat kota lewat perusahaan semen.

Gerakan Pak Tjokro dapat menjadi model bagi pemerintahan, bukan hanya blusukan mendengar keluh kesah, tetapi harus menjadi bagian wong kromo sebenarnya, sekaligus Penyadaran Nusantara berkemandirian, Berdiri di atas Kaki Sendiri. Pemerintah perlu memfasilitasi mekanisme ekonomi misalnya dengan pembentukan koperasi yang benar-benar diagendakan sebagai program nasional lewat APBN menjadi Koperasi Multi National. Koperasi bukan hanya dibiarkan hidup sendiri, dengan regulasi yang memandang koperasi adalah bagian dari usaha mikro, kecil dan menengah, tetapi setelah besar dengan usaha sendiri mendapatkan award ceremonial.

Neoliberalisme Global merefleksi misalnya pada penguatan regulasi Liberalisasi Pajak sebagai rekening penerimaan APBN yang merangsek potensi pajak usaha kecil sebagai denyut nadi perekonomian mayoritas negeri. Kasus Pertambangan dan Energi seperti BBM, pembubaran Petral dan Satgas Mafia Migas yang entah nanti apa akan menggulirkan Mafia Migas Baru? Kita berharap bahwa pembubaran Petral menjadi tonggak kembalinya kedaulatan energi nasional, bukan lainnya. Neoliberalisme yang lebih soft, nampak pada ukuran-ukuran Makro Ekonomi beroerientasi pasar bebas yang “wajib” berkiblat pada Washington Consensus, bahkan Ekonomi Kerakyatan tergusur dalam kotak definisi Usaha Mikro dan Kecil serta Koperasi yang tak akan pernah jadi besar.

Etika Global direfleksikan pada liberalisasi pendidikan yang menanamkan Etika Utilitarian (Transaksional) dan Virtue (Etika Universal) bebas agama pada seluruh struktur kurikulum, pembelajaran mulai pendidikan dasar sampai perguruan tinggi bahkan regulasi profesi pasca perguruan tinggi. Etika Global lebih teknis masuk di buku-buku ajar dan textbook dan menjadi bawah sadar manusia Indonesia yang sarat budaya antroposentris (berpusat pada kepentingan diri sendiri, moralitas kebebasan ala Barat, mementingkan keuntungan, dan transaksional (mentalitas pasar). Menjadi mahfum kemudian korupsi makin marak karena setiap manusia Indonesia memang lebih mementingkan kebahagiaan diri sendiri daripada guyub sosial dan pro lingkungan. KPK dan Polri misalnya akan tetap berhadap-hadapan dalam ruang terbuka atas nama kejahatan formal berbungkus transaksi politk yang mengaburkan nilai-nilai Akhlaqul Karimah dan Keikhlasan atas nama Allah misalnya.

Saatnya kita menegaskan semangat dan kejuangan Ruh Tjokroaminoto di seluruh aktivitas negeri menjadi dan mendorong lahirnya Pak Tjokro – Pak Tjokro Baru Berkeikhlasan, bukannya transaksional, atas dasar self interest, social interest apalagi global interest. Kepentingan adalah interest, dan interest itulah riba sesungguhnya yang membuat umat terhuyung-huyung. Jiwa Tjokroaminoto untuk Islam Kesemestaan Baru adalah refleksi Keikhlasan tertinggi, kecintaan memperbaiki negeri berbasis semangat kerakyatan penuh cinta kepada Allah, Mahabatullah, yaitu Zelfbestuur Baru, Zelfbestuur Tauhid, Nasionalisme Kesemestaan Berketauhidan.

Masa lalu adalah ibrah. Tugas kita adalah kini, di sini dan masa depan untuk Kebangkitan Nasional yang sebenarnya. Pak Tjokro sadar beliau bukanlah pemimpin formal negeri ini, meski beliaulah Sang Raja Sejati, Sang Raja Tanpa Mahkota, Guru Bangsa Yang Utama, Pembuka Jalan layaknya pejuang sejati seperti Wali Songo, Syekh Siti Jenar, Pangeran Diponegoro, KH. Kasan Besari, dan para Heru Cokro Ratu Adil lain di zamannya. Jadi… seperti Pak Tjokro, merancang Mosi, sudah saatnya, segera, kita,… merancang:

MOSI KEBANGKITAN NASIONAL BARU BERJIWA COKROAMINOTO

melalui

Nasionalisme Kesemestaan Bertauhid

Jakarta, 19 Mei 2015

2 thoughts on “MOSI TJOKROAMINOTO “BARU”: KEBANGKITAN NASIONAL “BARU”

  1. Pingback: MOSI TJOKROAMINOTO “BARU” – Belajar dari Sejarah

  2. Pingback: MOSI TJOKROAMINOTO | Historikapedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s