PENELEH VII No 29-31 SURABAYA: RUMAH PERJUANGAN

Menarik sekali berita di Kompas hari ini, 14 April 2008, mengenai rumah Pak Tjokro di Peneleh VII/29-31. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mampir ke rumah itu. Rumah itu memang bisa jadi simbol kebangkitan nasional. Rumah Pak Tjokro dapat dikatakan sebagai salah satu simbol Kebangkitan Nasional, karena memang di situlah pada tahun 1912, terjadinya perubahan Sarekat Dagang Islam menjadi Partai Sarekat Islam yang dimotori Pak Tjokro. Rumah itu juga merupakan salah satu tempat Pak Tjokro melakukan perkaderan, untuk menggodok putra terbaik bangsa, Soekarno. Di bawah ini foto rumah Pak Tjokro yang saya ambil dari Koran Kompas:

 

rumah pak tjokro

Rumah tersebut sekarang telah menjadi situs sejarah nasional, meski keinginan para ahli waris Pak Tjokro belum terealisasi, yaitu agar menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Lebih menarik lagi sebenarnya adalah keinginan dari para ahli waris untuk mengembangkan rumah tersebut menjadi Perpustakaan. Ide yang brilian itu. Siapa yang mau mendukung?😀

Menurut Kompas, inisiatif dari keluarga Pak Tjokro agar rumah tersebut dijadikan Museum tampaknya ditanggapi baik oleh Pemkot Surabaya. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Surabaya, Suhartojo, mengungkapkan bahwa pihaknya sepakat untuk menjadikan rumah tersebut sebagai museum. Semoga hal itu segera terwujud ya? Hehehehe…mumpung mau 100 tahun Kebangkitan Nasional ni…

Kritik buat Kompas, kenapa quotation di awal tulisan itu yang katanya sebagai latar belakang Piagam Penghargaan yang diberikan oleh Kelompok Pekerja Sejarah dan SUrabaya Heritage kepada ahli waris Pak Tjokro, sepertinya kasar banget, ya baik sih menunjukkan simbol budaya suroboyoan, tapi itu kan tidak mencerminkan dan menghormati Pak Tjokro sebagai pahlawan nasional. Ya mestinya ada komentar juga yang membangun, bahwa quotation seperti itu perlu diperbaiki, Mohon dalam pemberitaan lainnya nanti juga berhati-hati dalam memberi quotation. Agar tidak jadi stigma yang jelek bagi rumah kebangkitan nasional ya…

3 thoughts on “PENELEH VII No 29-31 SURABAYA: RUMAH PERJUANGAN

  1. Nasihin,
    pak saya mahasiswa UGM, saya sedang menulis tesis tentang sejarah peikiran. “perkembangan sosialisme islam di surabayan tahun 1912-1945”.
    saya sangat butuh data mengenai pemikirannya Tjokroaminoto, kira-kira boleh tidak kalo saya ikut mengakses data tentang Tjokroaminoto sepakterjang dan pemikirannya dari bapak. mohon dibalas, dan sebelumnya terimakasih, kalo boleh, saya bersedia menemui bapak untuk berdiskusi lebih lanjut. tolong sekalian minta alamat rumah serta no tlp, utk bisa berkomunikasi.

    hilda_amunsent@yahoo.com

  2. Saya fans ,Pak Tjokro,saya sedih negara kita terpuruk sekarang,bank2,telekomunikasi,tambang,bahan pangan air minum dan olahanya,kebun dan pabrik2 kelapa sawit,asuransi,retail dan distribusi bahan pangan,sandang dll banyak dikuasai asing,unilever sudah bercokol ratusan tahun produk A-Z kita bergantung dari asing.Ironis mamang,kita adalah negara kuli,kuli diantara bangsa-bangsa.Mahasiswa 2 dari mangkok emas :UI,UGM,UNPAD,IPB dll disekolahkan oleh fondation2 buatan perusahaan asing S1,S2,S3 keluar negri untuk kemudian dipekerjakan untuk memperbesar imperium bisnisnya.Pemerintah sudah bekerja keras,mereka yang melawan suara hati kini meringkuk dibalik terali besi,banyak masyarakt kita berpola pikir kolonial karena mereka adalah “Children of the Colonial State”.Imperialsme ekonomi di depan mata mari kawan kita bangkit lawan mereka.Saking ngafans-nya anak laki2 saya beri nama Muhammad Tjokro Firdaus,kami ingin anak2 kami menjadi Tomorrow Leader Indonesia.Salam! kita kelompok minoritas kreatif,idealis revolusioner bekerja keras minimal 16 jam sehari untuk mangharumkan Indonasia.(Ketua umum Indonesian Street Vendor Community)

  3. Saya setuju rumah beliau dijadikan “rumah sejarah” agar dapat diingat siapa beliau sepanjang masa, tapi akan lebih baik lagi
    jika ada penerus-penerus pemikiran beliau, sehingga walaupun beliau sudah lama meninggalkan kita untuk selamanya, bahkan jauh sebelum kita lahir, akan ada “cokro cokro baru” yang diharapkan bisa mewarnai nuansa negri ini, yaitu menuju “kemerdekaan sejati” sesuai cita-cita beliau. Insya Alloh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s