TJOKRO, SOEKARNO DAN RATU ADIL SOSIALISME

02 February, 2005

Tjokroaminoto, Soekarno dan Ratu Adil Sosialisme

Petikan dari buku yang akan terbit:
KERUKUNAN BERAGAMA, DAULAT POLITIK DAN KERETA REFORMASI (Bab I).
Oleh: HD. HARYO SASONGKO

Siapa tak mengenal Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dan Soekarno? Keduanya adalah founding father of nationalism. Tjokroaminoto yang lahir di
desa Bakur, Tegalsari Ponorogo 16 Agustus 1882, adalah tokoh Sarekat Islam (SI) yang semula bernama Sarekat Dagang slam (SDI) dan didirikan oleh Haji Samanhudi pada akhir 1911. Tjokroaminoto inilah yang melahirkan gagasan
nasional-isme modern. Anak wedana Kleco Madiun Tjokroamiseno ini sejak muda
sudah aktif dalam organisasi perjuangan. Tidak aneh bila dia juga menjadi
tempat berguru anak-anak muda yang ingin aktif dalam perjuangan, seperti
Soekarno, Abikusno, Semaun, Alimin, Musso, HA Agus Salim, Kartosuwirjo,
Herman Kartowisastro, KH Mas Mansyur dan lain-lain.

Perlu dicatat bahwa beberapa nama dari sekitar 20 nama yang berguru
kepadanya itu, Soekarno menjadi tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia)
Abikusno Tjokrosujoso men-jadi tokoh PSII (Partai Syarikat Islam
Indonesia), semen-tara Semaun, Alimin dan Musso menjadi tokoh komunis
memimpin PKI (Partai Komunis Indonesia), KH Mas Mansyur aktif di
Muhammadiyah dan bersama dokter Sukiman yang juga berguru pada HOS
Tjokroaminoto mendirikan Partai Islam Indonesia yang berasaskan kebangsaan.
Sementara itu Kartosuwirjo kita kenal sebagai tokoh pimpinan PSII di masa
penjajahan dan memimpin pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam
Indonesia) di masa kemerdekaan, anggota Pengurus Besar Masjumi dan penggagas
sekaligus pendiri Negara Islam Indonesia (NII) pada 1 Agustus 1949.

HOS Tjokroaminoto memang sudah mengakui adanya pluralisme dan
kemajemukan dalam diri bangsa Indonesia, karena itu sejak semula menjadi
guru dia tidak bersikap eksklusif. Karena itulah, murid-muridnya di
kemudian hari banyak yang menjadi tokoh pergerakan nasional, baik yang
beraliran Islam, nasionalis, sosialis bahkan komunis.

Abikusno sebenarnya masih saudara (adik) Tjokro-aminoto dan dia
termasuk yang ikut menandatangani Piagam Djakarta pada 22 Juni 1945. HOS
Tjokroaminoto inilah yang memelopori menggulirkan konsep “Islam dan
Sosialisme”. Dalam Kongres Nasional Central Sarekat Islam (CSI) di Bandung
17-24 Juni 1916, Tjokroaminoto dengan tegas menuangkan ide-idenya dalam
empat pokok. Pertama, Islam adalah agama yang mengajarkan ide de-mokrasi;
kedua Islam merupakan dasar pokok bagi pen-didikan moral dan intelektual;
ketiga pemerintah Hindia-Belanda tidak boleh ikut campur dalam bidang agama
dan tidak membuat diskriminasi atas agama-agama yang ada di Indonesia dan
keempat, rakyat harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam politik.
Keempat pokok-pokok ajaran HOS Tjokroaminoto itulah yang sangat mempengaruhi
salah seorang muridnya, Soekarno, sehingga mengatakan: “HOS Tjokroaminoto
itulah yang membentuk seluruh kehidupan saya”. Ketika sudah menjabat sebagai
Presiden RI, Soekarno masih me-ngatakan: “Andaikata Tjokroaminoto masih
hidup, ten-tulah bukan saya yang menjadi presiden, melainkan dia. Saya ini
tidak ada apa-apanya dibanding dia…” Begitu me-lekat hati dan pikiran
Tjokro di hati dan pikiran Soekarno, sehingga Soekarno betul-betul menjadi
murid kesayang-annya. Bahkan murid yang satu ini akhirnya menjadi me-nantu
Tjokro karena menikahi Utari, anak tertua gurunya itu.

Betapa dekatnya Soekarno dengan Tjokro, diakui dalam wawancaranya
dengan Cindy Adam yang kemudian dibukukan dalam Soekarno Penyambung Lidah
Rakyat, di mana Soekarno saat berguru dengan Tjokro duduk dekat kaki Tjokro,
mendengarkan intonasi perkataannya dan gerak tangannya, dan itu kemudian
dijadikan cermin oleh Soekarno dalam gaya pidatonya selama menjadi tokoh PNI
hingga sebagai presiden. Kelahiran PNI itu sendiri, tak lepas dari pengaruh
Tjokro. Tjokro bahkan mengatakan kalau SI berasaskan Islam, maka perlu ada
partai yang berasaskan kebangsaan. Keduanya, Islam nasionalis dan nasionalis
Islam, bisa bergandeng tangan sama-sama menentang penjajahan Belanda.

Dari sinilah inspirasi Soekarno mendirikan PNI, dan melahirkan ide
marhaenisme di mana kemudian SI dan PNI sama-sama brsikap non-kooperatif
dengan Belanda. Sayang Tjokro tak sempat melihat sepakterjang Soekarno
dengan PNI-nya, karena dia wafat pada 17 Desember 1925 dan dua tahun
kemudian (1927) PNI atau Perserikatan Nasional Indonesia baru berdiri yang
dalam Kongres Nasionalnya yang pertama (1928) partai ini berganti nama
menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).

Perjuangan Soekarno dengan PNI-nya tidak pernah lepas dari empat pokok
ajaran HOS Tjokroaminoto. Teori-teori tentang demokrasi dan sosialisme yang
dikembang-kan Soekarno dan bernuansa Islam, juga berasal dari ajaran Tjokro.
Di sini kembali terlihat betapa luas wawasan politik Tjokro dalam melihat
masa depan bangsa dan negaranya yang sedang terjajah agar bisa merdeka.
Bahkan rakyat ketika itu menyebutnya, Tjokro itulah Ratu Adil yang telah
turun ke bumi. Tetapi Tjokro menolak anggapan ini. Menurutnya, Ratu Adil
bukanlah sosok manusia, melainkan suatu ide, yakni ide sosialisme. Ide yang
berlandaskan demokrasi dan nasionalisme yang diilhami oleh ajaran Islam.
Seperti disebut pada pokok petama ajarannya: Islam adalah agama yang
mengajarkan demokrasi. Bahwa Tjokro menghendaki terjadinya proses
intelektualisasi dan pen-didikan moral, itu sudah tertuang pada pokok kedua:
Islam merupakan dasar pokok bagi pendidikan moral dan intelektual. Bahwa
pemerintah tidak boleh mencampuri urusan keagamaan yang merupakan urusan
pribadi dan tidak menjadikan agama sebagai dasar negara karena itu akan
melahirkan diskriminasi dalam masyarakat Indonesia yang plural, telah
tertuang pula pada pokok ketiga: Pemerintah Hindia-Belanda tidak perlu ikut
campur dalam bidang agama dan tidak membangun diskriminasi. Dalam hal ini
Tjokro menuangkan pokok pemikirannya yang ketiga bukan karena pemerintah
Hindia-Belanda itu didominasi oleh orang-orang yang beragama nonIslam,
tetapi karena campur tangan negara dalam keagamaan memang bisa menimbulkan
perpecahan nasional. Dalam hal ini tidak berarti umat Islam tidak boleh ikut
terlibat dalam urusan politik. Justru itu sudah tertuang dalam pokok
pikirannya yang keempat: Rakyat perlu diberi kesempatan berpartisipasi dalam
politik.

Soekarno mencoba menuangkan pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto yang
sudah menjiwainya itu antara lain dengan menyebutkan tidak perlunya negara
mengatur persoalan agama dan agama mengatur persoalan negara. Sebab meskipun
agama dipisahkan dari negara, tidak berarti agama akan dikesampingkan dalam
kehidupan kenegaraan. Juga tidak mungkin keputusan-keputusan politik negara
akan bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang dianut masyarakat,
apabila lembaga parlemen yang mengeluarkan keputusan-keputusan itu
beranggo-takan orang-orang yang yakin akan kebenaran ajaran a-gamanya.(Lihat
juga: Ahmad Suhelmi:1999).

Sebelum Nurcholish Madjid getol menjajakan teori sekularisme yang
banyak ditentang oleh kalangan Islam lainnya, Soekarno sudah menjajakan
terlebih dahulu de-ngan menyebutkan “sekularisme politik merupakan tun-tutan
historis…”. Dan jauh sebelum itu, secara tersamar sang guru Tjokroaminoto
sudah pula mengungkap tentang sekularisme (tanpa menyebut kata-kata itu)
dalam konteks untuk membangun semangat nasionalisme dan demokrasi. Dan
pemikiran ini tentu bukan pemikiran asal-asalan. HOS Tjokroaminoto adalah
orang yang sejak kecil mendapatkan pendidikan di lingkungan agama (Islam).
Kemudian me-lanjutkan sekolahnya di Opleidingschool Voor Inlandeche
Am-btenaren (OSVIA). Jadi jelas betapa kuat modal dasar pe-ngetahuan
keagamaan (Islam) yang dimilikinya.

Sekularisme, menurut Prof Drs A. Daliman, selama ini oleh bangsa
Indonesia, terutama umat Islam, dimaknai dengan konotasi negatif dan ini
akibat terjadinya distorsi dan salah interpretasi sehingga banyak
“ditakuti”. Padahal menurut Daliman, konsep sekuler tidak diartikan sebagai
meninggalkan agama sebagaimana dipahami oleh sebagian umat Islam selama ini.
Daliman sependapat dengan Nur-cholish Madjid yang memaknai sekuler sebagai
upaya memposisikan kedudukan agama dan dunia pada tem-patnya yang wajar.

Daliman juga mengungkap bahwa munculnya konotasi negatif tersebut tak
lepas dari akibat sistem pendidikan kita yang kurang pas. Selama ini
pendidikan agama yang diajarkan di sekolah-sekolah hingga tingkat perguruan
tinggi sebaiknya diarahkan untuk lebih bersifat akademis dengan memberikan
kajian dan studi terhadap semua agama.(Media, 12/11/01). Dengan demikian
pemahaman terhadap sekularisme juga lebih luas, tidak sekadar lewat
interpretasi sempit dan selalu melihatnya dalam sisi yang negatif.

Tampaknya Tjokroaminoto dalam memahami sekular-isme meskipun ia hidup
pada masa silam, jauh lebih unggul daripada pemahaman atas hal yang sama di
kalangan para sarjana agama Islam di masa kini. Sebelum Daliman lahir,
Tjokro sudah mencoba melahirkan pemikiran-pemikiran Islam dan membuka
pendidikan dengan metodologi yang akademis.

Dalam Kongres Central Sarekat Islam (CSI) di Bandung (1916),
Tjokroaminoto memang mengatakan bahwa “kita harus mencintai bangsa sendiri
dengan mempersatukan mereka dengan kekuatan ajaran Islam…” Ucapan ini
tentu yang dimaksudkan agar umat Islam dengan kekuatan a-gamanya dapat
berperan mempersatukan bangsanya yang pluralis. Bukan dalam arti menjadikan
seluruh bangsanya menjadi Islam. Karena ketika itu, bangsa Indonesia,
ter-masuk di dalamnya umat Islam, berada pada posisi ter-marjinalkan oleh
penjajah Belanda, selalu diperintah tetapi tak pernah mendapatkan hak untuk
ikut memerintah.

Mengikuti alur pemikiran Tjokroaminoto yang kemudian dikembangkan
oleh Soekarno, tampak bahwa perju-angan umat Islam di masa itu dalam melawan
tirani penjajah Belanda dilakukan dengan penuh semangat militansi namun
menghindari radikalisasi. Bahkan dengan kesadaran yang tinggi tentang
pluralitas bangsanya sebagai realitas sosial, budaya dan politik yang memang
hadir nyata di te-ngah masyarakat, Tjokroaminoto lebih banyak bicara
ten-tang nasionalisme dan demokrasi, bukan tentang teokrasi (negara agama).
Dengan perjuangan yang berlandaskan semangat nasionalisme dan demokrasi,
berarti mengajak seluruh komponen bangsa yang beragam ini untuk berdiri sama
tinggi dan duduk sama rendah, tak mengenal istilah mayoritas-minoritas yang
cenderung bermakna diskriminatif, untuk bersama-sama melepaskan diri dari
ceng-keraman penjajah.

Dalam pandangan Tjokroaminoto, bila umat Islam bersungguh-sungguh
melaksanakan ajaran agamanya, dengan sendirinya dia akan menjadi seorang
demokrat, dan dengan demikian juga sosialis. Tetapi, tidak berarti dalam
pengertian demokrat dan sosialis yang mengesampingkan agama. Bukunya yang
terbit tahun 1924, Islam dan Sosialisme, jelas dia menentang konsep-konsep
sosialismenya Marx, juga kapitalisme, karena yang pertama menjauhkan manusia
dari agama dan yang kedua mem-perlihatkan watak individualisme yang rakus
untuk menim-bun harta yang ujung-ujungnya dapat dijadikan sebagai alat
penindas rakyat.

Dalam pandangan Tjokroaminoto, sosialisme Marx dan kapitalisme
menjadikan benda sebagai segalanya, dan manusia sebagai obyek. Sedangkan
dilihat dari sudut pan-dang Islam, manusia itu khalifah, subyek yang
merupakan muara atas semua sistem sosial, ekonomi, budaya dan lain
sebagainya. Dengan sosialisme Islam, menurut Tjokro, hak individu masyarakat
tetap terjamin, yang penting bukan membangun kondisi sama rata sama rasa,
tetapi memba-ngun semangat berkompetisi dengan keahlian masing-masing,
karena setiap orang memang dilahirkan tidak untuk sama rata sama rasa dengan
orang lain, apalagi kalau kemudian disama rasa sama ratakan melalui
kediktatoran. Setiap orang bebas mengembangkan keahliannya, memperoleh
kekayaan dengan keahliannya itu, namun tidak dengan jalan menindas orang
lain. Bahkan Tjokro menambahkan, dengan berusaha untuk menjadi kaya raya
melalui cara yang halal, maka kekayaan atau harta benda yang menurut Islam
hanya titipan Tuhan itu dalam prosentase tertentu harus diberikan kepada
orang lain yang masih miskin, yang disebut sedekah, di mana ada dua
kategori: Sedekah yang besarnya tergantung pada kemauan atau keiklasan yang
memberikan, dan kedua yang sudah dengan ukuran prosentase tertentu dari
total kekayaannya yang disebut zakat. Dan zakat ini pun ada zakat fitrah dan
zakat maal. Sosialisme model ini tidak melahirkan sama rata, tetapi
menimbulkan sama rasa, dalam arti sama-sama merasakan kebahagiaan karena
dapat menikmati harta yang didapat dari orang yang lebih kaya secara iklas.
Di sini nasionalisme dan sosialisme berjalan beriringan, tidak ditempatkan
da-lam kotak-kotak yang saling bermusuhan, juga tidak diperankan sebagai
ideologi yang dikotomis. Semua merupakan sistem untuk membangun masyarakat.

Di sini sekali lagi terlihat keunggulan pemikiran Tjo-kroaminoto, di
mana meskipun ajaran-ajarannya sudah “ketinggalan” lebih dari seratus
tahun, namun tampaknya malah lebih maju daripada pemikiran kelompok radikal
Islam atau kelompok “yang paling tahu tentang Islam” di masa kini,
setidaknya pada era tahun 2000-an, yang begitu sempit melihat konsep
nasionalisme, demokrasi dan sosialisme sebagai “anti Islam” bahkan merupakan
barang impor dari dunia Barat yang nonIslami, dan lebih parah lagi malah
dituding sebagai pemikiran kaum kafir. Sebagai misal, banyak tokoh radikal
yang menyatakan demokrasi bukan saja bertentangan dengan ajaran Islam,
bahkan bisa merusak tatanan Islam, karena demokrasi merupakan produk
kapitalis. Sebutan sosialis juga diidentikkan dengan komunisme dan atheisme
karena itu juga harus diperangi.
Moeslim Abdurrahman, antropolog dan Ketua al-Maun Foundation memang juga
mengakui, di samping kelompok-kelompok radikal, bahkan perorangan Islam
masih banyak sekali yang anti demokrasi, di samping banyak juga yang
berjuang secara sungguh-sungguh dengan keyakinan Islam untuk menegakkan
demokrasi. Pengalaman sejarah yang terjadi di negara-negara Islam atau yang
mayoritas penduduknya Islam dalam hubungannya dengan sepak-terjang
kolonialisme Barat memang menjadi salah satu pemicu, sehingga apa saja yang
dianggap “produk Barat” termasuk demokrasi dan sosialisme, secara a priori
dimu-suhi dan dikategorikan sebagai “tidak sesuai dengan Islam”. Padahal
sekali lagi, sosialisme di sini adalah yang di-angkat dari konsep-konsep
untuk membangun dan me-ningkatkan kesejahteraan masyarakat yang diajarkan
Islam, yang menghindari kediktatoran dan otoriter.

Bagi mereka yang melihat konsep sosialisme dari sisi ini, bahkan
kemudian malah dijadikan sebagai salah satu “bahasa perlawanan” terhadap
Barat. Dan ini kemudian digarisbawahi dengan munculnya rasa nasionalisme.
Se-bagai pihak yang pernah menjadi “pesakitan kolonial-isme”, Islam tak
lagi hanya bertahan dengan identitas kultural. Nasionalisme juga menjadi ide
politik yang ter-buka untuk pemerdekaan bangsa. Oleh karena itu menurut
Moeslim, hubungan Islam dengan nasionalisme menjadi kesadaran yang paling
kuat dan membekas dalam per-lawanan yang panjang terhadap hegemoni Barat.

Beberapa negara yang merdeka dan memilih sebagai negara Islam juga
memilih jalan sosialisme Islam sebagai lawan Barat yang kapitalistik.
Sosialisme menjadi dekat di negara-negara dengan masyarakat mayoritas
muslim. Ha-nya saja, tidak beda dengan sosialisme Marx yang telah
dijungkirbalikkan oleh pengikutnya sendiri di negara-ne-gara yang mengaku
sosialis tetapi rakyatnya malah men-derita dipasung tirani jiwa, demikian
juga sosialisme Islam telah dijungkirbalikkan sehingga tak lagi menjadi
ke-kuatan rakyat, malah menjadi ideologi rezim politik, rezim yang korup di
mata kepentingan rakyat. Di negara-negara Islam yang berkuasa adalah rezim
kekuasaan yang satu sama lain bermusuhan tak ada selesainya. (Media,
20/2/04).

Dan hingga kini, memang belum pernah terdengar ada negara dengan
sebutan “Republik Sosialis Islam” atau “Kerajaan Sosialis Islam” dengan
rakyatnya yang makmur sejahtera, tidak tertindas oleh rezim, tidak mengalami
tirani jiwa karena hak-hak asasinya tersita. Tak beda dengan ne-gara-negara
yang memasang label “Republik Demokrasi Rakyat” atau “Republik Sosialis”
yang memilih jalan so-sialisme Marx, di mana bukan hanya kemiskinan dan
tirani jiwa yang diderita rakyatnya, bahkan secara mondial negara-negara
berlabel sosialis itu mengalami keruntuhan karena di mana-mana dibenci
rakyatnya sendiri sebelum mencapai tahap sebagai negara komunis.

Apa yang dikemukakan oleh Moeslim Abdurrahman tersebut sesungguhnya
tak jauh beda dengan yang sudah diungkap Tjokroaminoto. Dan apa yang
dikemukakannya tersebut, bukanlah Tjokroisme, melainkan ajaran Islam.
Tjokro hanya memetik dan mensosialisasikannya di tengah masyarakat, terutama
para muridnya. Tjokro justru memperlihatkan keunggulan sosialisme Islam
dalam konsep pembangunan masyarakat dibanding konsep-konsep lainnya,
termasuk sosialisme Marx, komunisme dan kapitalisme.

Tjokroaminoto hanya memperkenalkan kandungan ajaran Islam tentang
nasionalisme dan sosialisme yang ma-nusiawi, tanpa harus melahirkan tirani
jiwa seperti sosi-alisme Marx yang dibangun atas dasar diktator proletariat.
Dengan sistem pasar tunggal yang dikuasai negara, dan mencabut hak-hak
rakyat atas kepemilikan alat produksi, ternyata yang lahir adalah pemerataan
kemiskinan dan kondisi anti demokrasi. Sementara itu sosialisme Islam justru
mempersilakan setiap orang untuk “membuka” pasar sendiri-sendiri,
berkompetisi secara jujur dan adil. Se-bab seperti dikemukakan oleh mantan
Menteri Agama RI Prof Dr Mukti Ali (alm), manusia adalah “mahluk yang
berpengharapan”, juga “mahluk yang bercita-cita”. Bukan sekadar “mahluk yang
berpikir” dan tukang “membikin berbagai alat” atau sekadar “mahluk yang
bekerja” seperti para buruh di negara sosialis Marx. Sebagai “mahluk yang
berpengharapan” atau “mahluk yang bercita-cita” dia menjadi kreatif,
berusaha untuk menjadi manusia unggulan yang berdiri di atas pilar demokrasi
yang manusiawi, seper-ti menghargai kebebasan (liberation), persamaan
(equality) dan pengakuan terhadap hak asasi manusia (human right).

Inilah bedanya, pemikiran umat Islam masa lalu di era Tjokroaminoto,
yang banyak membaca buku yang menya-jikan pemikiran dari berbagai arah,
termasuk buku yang bertentangan dengan Islam dalam rangka membuka wawasan.
Sementara umat Islam masa kini lebih banyak men-dengarkan dakwah satu arah
yang tak lebih baik kualitasnya dari indoktrinasi. Malah, sebagaimana
dikatakan oleh Di-rektur Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga
Yog-yakarta, Musa Asyari, dalam acara Seminar Nasional Meluruskan Jalannya
Reformasi, yang digelar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pendidikan
agama di se-kolah-sekolah kita selama ini secara umum antirealitas. Baik itu
realitas plural dalam kehidupan agama secara internal dalam kehidupan agama
itu sendiri maupun secara eks-ternal dalam kaitannya dengan agama-agama
lain.

Dan model pendidikan semacam ini berlangsung mulai dari SD sampai
perguruan tinggi. Pendidikan agama, me-nurut Musa Asyari masih berkutat pada
usaha untuk me-monopoli kebenaran Tuhan menurut penafsirannya sendiri dan
akibatnya lalu dengan gampang menghakimi orang lain yang berbeda keyakinan
dan agamanya. Padahal tegas Musa Asyari, Tuhan dan kebenaran tidak pernah
dapat dimonopoli seseorang atau sekelompok orang meskipun dia itu kiai,
ustadz, pendeta ataupun pendekar. (Media, 1/10/03).

Dan dengan mempelajari sekilas pemikiran Tjokroaminoto tentang
nasionalisme dan sosialisme tersebut, baik pemikiran Daliman maupun Musa
Asyari, sebenarnya malah sudah dipraktekkan oleh Tjokroaminoto dan para
muridnya. Para founding fathers kita seperti Soekarno dan Hatta, dikenal
bukan hanya mendalami Islam, dan agama lain, bahkan juga berbagai ideologi
atau aliran-aliran besar di dunia termasuk marxisme, tetapi mereka tidak
lalu menjadi orang komunis.
Tak mungkin Tjokroaminoto mengecam dan menen-tang teori sosialismenya Marx
kalau tidak mempelajari teorinya. Bahkan Soekarno dan Hatta yang sudah
demikian mendalam mempelajari teori-teori marxisme, menjadi se-makin tahu
akan kelemahannya. Kedua tokoh ini tetap sebagai umat Islam, tetap
nasionalis, tetap demokrat, tetap memperjuangkan sosialisme, namun tidak mau
berangkat dari konsep materialisme, dialektika dan historisnya mar-xisme.
Mereka mempelajarinya sebagai ilmu.

HOS Tjokroaminoto, memang bukan hanya nasionalis sejati dan peletak
dasar-dasar nasionalisme modern. Yang lebih utama dari itu semua, dia telah
menanamkan kesadar-an pluralisme di kalangan masyarakat, khususnya
murid-muridnya. Meskipun, tak semuanya melaksanakan secara konsekuen.
Contohnya, para pemuda yang dikemudian hari menjadi pimpinan PKI, seperti
Semaun, Alimin dan Musso malah melakukan intervensi pada konsep
nasio-nalisme Tjokro sehingga malah membuat SI pada era tahun 1920-an
terpecah menjadi SI Putih (tetap dipimpin Tjo-kroaminoto) dan SI Merah
(dipimpin Semaun dan Dar-sono). Demikian juga Kartosuwirjo yang ingin
mengubah bentuk negara kesatuan menjadi Negara Islam, belasan tahun kemudian
setelah Tjokroaminoto wafat.

Di masa Tjokroaminoto aktif sebagai guru mereka, dia pun menginginkan
bagaimana banyak tokoh Islam yang moderat duduk dalam pemerintahan, namun
tidak berarti ingin mengubah pemerintahan menjadi negara Islam ka-rena ini
akan mengingkari sendiri ajarannya tentang perlu-nya menghargai semua agama
yang ada di Indonesia tanpa diskriminasi, tanpa ada yang menjadi kelompok
penguasa atasnama agama. Dengan konstitusi nasional berdasarkan suatu agama,
maka pemeluk agama lain langsung atau tidak akan terdiskriminasikan, bahkan
termarjinalkan.
Karena itu pulalah dia lebih banyak mengedepankan pemahaman bahwa muslim
itu demokrat dan sosialis. De-ngan pengertian prinsip-prinsip ini, berarti
setiap umat Islam wajib menjalankan ajaran agamanya dengan mene-gakkan
demokrasi dan menjalankan fungsi sosialnya di masyarakat. Tjokroaminoto
tidak mengedepankan ke-kuasaan Islam melainkan pengabdian Islam di tengah
ma-syarakat yang pluralistik.

Namun sekali lagi, sayangnya banyak prinsip-prinsip ajaran
Tjokroaminoto ini malah terjungkirbalikkan oleh sebagian umat Islam sendiri.
Kalau Tjokro menyebutkan betapa bedanya sosialisme Islam yang humanis dengan
sosialisme Marx yang totaliter, Sayyid Abdul A’la Al-Maududi malah
menampilkan konsep negara Islam yang harus totaliter, sama dengan
negara-negara komunis dan fasis. Dan ini telah menjadi kenyataan. Sekali
lagi kita telah terperosok pada dua tiga lubang yang sama, akibat pemi-kiran
yang sempit, sehingga di mana ada negara berlabel “Islam”, di sana tidak
ada demokrasi, hanya ada totaliter. Sama seperti yang terjadi di
negara-negara berlabel “sosialis” yang malah anti sosial dan anti humanisme.

One thought on “TJOKRO, SOEKARNO DAN RATU ADIL SOSIALISME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s