EKONOMI ISLAM DALAM BINGKAI PEMIKIRAN HOS TJOKROAMINOTO

Oleh: Aji Dedi Mulawarman

Orasi Ilmiah disampaikan pada Acara Wisuda Sarjana Universitas Cokroaminoto Yogyakarta
tanggal 12 September 2007, di Auditorium RRI, Jogjakarta

Yang Kami Hormati:
Ketua dan Pengurus Yayasan Cokroaminoto Jogjakarta;
Senat dan Guru Besar, Rektor, Wakil Rektor, Dekan-dekan, alumni
dan civitas akademika Universitas Cokroaminoto Jogjakarta
Seluruh Undangan yang hadir dalam Wisuda hari ini
Yang Berbahagia Seluruh Wisudawan/Wisudawati beserta keluarga

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,

Alhamdulillahirabbil’alaamin. Hari ini merupakan hari paling membahagiakan bagi wisudawan/wisudawati karena telah menyelesaikan satu tahap awal, yaitu jenjang pendidikan tingkat sarjan. Jenjang pendidikan jelas bukan hanya merupakan status sosial. Lebih penting adalah sinergi intelektual-akhlak para wisudawan/wisudawati sebagai bekal terjun di masyarakat. Sinergi untuk mewujudkan cita-cita almamater, cita-cita Bapak kita tercinta Hadji Oemar Sa’id Tjokroaminoto ”Sang Raja Tanpa Mahkota”. Cita-cita tersebut termaktub dalam Dua Prinsip Utama monumental Tjokroaminoto mengenai Konsep Ilmu Sosial Islam yang perlu dikedepankan di sini, yaitu Prinsip Kedermawanan Islami dan Persaudaraan Islam. Konsep Ilmu Sosial Islam Tjokroaminoto merupakan bentuk Islamisasi Ilmu dari tokoh Islam modern Indonesia bahkan pertama di dunia. Sebagai perbandingan Islamisasi Ilmu secara konseptual digagas oleh Abduh dan Iqbal tahun 1928, sedangkan Islamisasi Ilmu secara konkrit baru dilakukan Ismail Raji Al Faruqi dan Naquib Al-Attas tahun 1984. Tjokroaminoto sendiri telah melakukan Islamisasi Ilmu tahun 1924 melalui bukunya yang berjudul Islam dan Sosialisme.

Berbekal Prinsip Utama itulah kami mencoba menyajikan kepada Bapak/Ibu/Saudara Orasi Ilmiah berjudul “Ekonomi Islam dalam bingkai pemikiran HOS Tjokroaminoto”. Orasi Ilmiah ini akan dibagi dalam empat bagian. Pertama, perkembangan ekonomi Islam kontemporer. Kedua, bingkai Pemikiran Ekonomi Tjokroaminoto. Ketiga, merujuk sirah dan jejak Rasulullah. Keempat, langkah strategis dalam bingkat pemikiran ekonomi Tjokroaminoto.

1. PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM KONTEMPORER

Ekonomi Islam kontemporer saat ini dapat dikerangkakan dalam dua garis utama, berkenaan dengan studi akademis dan arena praksis. Studi akademis selalu berasumsi mengenai kedudukan Islam berhadapan dengan dua kutub ideologi lainnya, kapitalisme dan sosialisme. Akademisi biasanya meletakkan Ekonomi Islam sebagai implementasi fiqh muamalah yang memiliki tujuan syari’ah, yaitu mashlaha untuk ummat, keadilan dan kesejahteraan. Atas dasar kedudukan tujuan syari’ah tersebut kemudian para akademisi terjebak pada perdebatan apakah ekonomi Islam berbeda, menjadi titik tengah atau melakukan akomodasi atas ideologi kapitalisme atau sosialisme.

Arena praksis di sisi lain mencoba merealisasikan konsep fiqh muamalah akomodatif terhadap sistem ekonomi yang berkembang saat ini. Hasilnya adalah melakukan modifikasi sistem keuangan, perbankan, asuransi, pemasaran, manajemen dari perspektif Barat. Menjadi maklum ketika hari-hari ini ekonomi Islam banyak bersentuhan dengan pasar saham, sistem pembiayaan (musyarakah, murabahah, atau lainnya), serta lebih mengutamakan aspek penguatan makro ekonomi.

Meskipun dalam perjalanannya sistem serta lembaga keuangan Islam masih diliputi kontroversi-kontroversi pemikiran di dunia Islam sendiri maupun perbedaan yang menyolok dengan sistem serta lembaga keuangan konvensional. Perbankan Islam terkait penyelesaian masalah riba (musyarakah/mudharabah dan murabahah), sedangkan pasar modal pada masalah maisir dan gharar [1].

Pertanyaannya, apakah Ekonomi Islam secara akademis maupun praksis telah menyentuh masalah ke-Indonesia-an? Perlu diketahui, Ekonomi kapitalis saat ini lebih konsern pada masalah dan rasio-rasio makro ekonomi, sedangkan masalah mikro tidak tersentuh langsung (hanya menjadi dampak makro ekonomi), inilah yang disebut Tricle Down Effect Mechanism. Sedangkan ekonomi sosialis sendiri sepertinya berjalan di tempat, terbukti dengan makin tereduksinya Pasal 33 UUD 1945. Keinginan Pasal 33 UUD 1945 untuk menjadi jalan tengah kapitalisme dan sosialisme, yaitu Ekonomi Kerakyatan serta lebih dari itu ingin mewujudkan negara ber-Ketuhanan. Tetapi kenyataannya, bagaimana Ekonomi kita sekarang, menjadi Ekonomi Kerakyatan “semu” atau menjadi subordinat Neoliberalisme? Wallahua’alam.

2. EKONOMI DALAM BINGKAI PEMIKIRAN TJOKROAMINOTO

Berikut ini akan kita lihat bingkai pemikiran ekonomi Tjokroaminoto yang dikemas dalam Dua Prinsip Utama mengenai Konsep Ilmu Sosial Islam. Prinsip Pertama yaitu Kedermawanan Islami. Menurut beliau kedermawanan bukanlah melakukan sedekah sebagai kebajikan semata, tetapi sedekah adalah kewajiban untuk meraih cinta Allah. Dampaknya, pertama, menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi untuk mencapai Keridhaan Allah. Kedua, zakat sebagai dasar bagi distribusi dan pemerataan kekayaan untuk seluruh masyarakat. Ketiga, kemiskinan dunia bukanlah kehinaan, tetapi kejahatan dunia adalah kehinaan.

Prinsip kedua yaitu Persaudaraan Islam. Persaudaran Islam menurut beliau harus dibangun bukan berdasarkan pada suku, warna kulit, ras, kekayaan atau lainnya, tetapi berdasar pada ketakwaan.

Dua Prinsip Utama di atas hanya dapat dijalankan, seperti dijelaskan dalam buku beliau, dengan cara sinergi antara realitas sosial ekonomi masyarakat merujuk pada sirah dan jejak Muhammad saw.

3. RUJUKAN SIRAH DAN JEJAK RASULULLAH SAW.

Bangunan ekonomi yang dibangun Rasulullah berawal dari penguatan ekonomi rakyat, ekonomi para sahabat yang lebih didominasi fuqara’ wal masakin. Rasulullah berdasarkan Al-Qur’an melakukan “Back To Nature Economics” sebagai pilar utamanya. Ekonomi Natural diawali dengan menekankan pentingnya distribusi, keadilan, nilai tambah untuk semua, serta pengelolaan “keikhlasan” dalam berekonomi. Ekonomi Natural juga tidak dapat dilepaskan dari relasi sosial, lingkungan dan bahkan tanggung jawab utama kepada Allah.

Ekonomi Natural dijalankan dengan cara mereduksi pola pikir kapitalistik Mekkah yang lebih menekankan mekanisme perdagangan (intermediasi), dan menganaktirikan produksi (seperti bertani, pertambangan, berkebun, kerajinan, dan lainnya) serta retail (berdagang eceran). Ekonomi Natural dengan demikian merupakan ekonomi produktif, intermediasi, sekaligus pertukaran untuk keseimbangan individu, masyarakat, alam dan akuntabilitas kepada Allah SWT.

Tugas kita semua menjaga Ekonomi Islam agar tidak terjebak pada Tricle Down Effect Mechanism. Ekonomi Islam harus menyeimbangkan kedudukan makro dan mikro ekonomi. Saya berpendapat, Ekonomi syari’ah tidak mengenal dominasi Makro ekonomi atas Mikro Ekonomi.

4. IMPLEMENTASI SIRAH DAN JEJAK RASULULLAH SAW.: STRATEGI EKONOMI

Agenda beberapa tahun ke depan adalah merancang pemberdayaan mikro tanpa meninggalkan pengembangan makro ekonomi Islam. Artinya, saatnya memikirkan lebih konkrit mekanisme yang menyentuh langsung pada sektor riil. Beberapa hal dapat dilakukan:

  1. Menemukan formulasi mikro ekonomi berasaskan mashlaha untuk semua. Mekanisme zakat, infaq dan shadaqah bukan hanya sebagai bentuk kewajiban, tetapi perlu dielaborasi lebih jauh sebagai inti pendekatan mikro yang berdampak pada ekonomi makro.
  2. Menemukan dari bawah mekanisme berdagang, berinvestasi, produksi dan melakukan pemasaran bagi ekonomi rakyat secara luas dan berkeadilan.
  3. Mengembangkan akhlak bisnis ekonomi rakyat berbasis spiritualitas Islam itu sendiri.
  4. Menggali dan mengangkat kearifan lokal dalam berekonomi. Konsekuensinya adalah menelusuri mekanisme manajemen, administrasi dan keuangan/akuntansi ekonomi rakyat sesuai realitas Ke-Indonesia-an tanpa meninggalkan batasan syari’ah.
  5. Mensinergikan mikro dan makro ekonomi atas dasar kepentingan ekonomi, sosial, lingkungan dalam bingkai ketundukan untuk mewujudkan mashalah untuk semua
  6. Pengembangan teknis, yaitu alternatif konsep pembiayaan, seperti salaf atau qardh yang memang secara tradisional fiqh-nya lebih dekat dekan sistem pinjaman/pembiayaan.[2] Sistem muzara’ah dan musaqah juga hanya dilihat untuk pertanian. Perlu pengembangan berbasis sistem tersebut karena lebih dekat dengan sistem investasi-produktif, daripada sistem musyarakah atau mudharabah yang lebih dekat dengan investasi-perdagangan[3].

5. CATATAN AKHIR

Lembaga Riset Keuangan Syari’ah Universitas Cokroaminoto Yogyakarta menggunakan Dua Prinsip Utama HOS Tjokroaminoto saat ini mencoba mengembangkan gagasan ke depan mengenai perekonomian secara makro dan mikro, mencoba untuk melakukan karya Ekonomi Islam ala Tjokroaminoto. Berfikir Ekonomi dan Sosial Cara Islam dari HOS Tjokroaminoto sering disalahpahami sebagai penerimaan terhadap Sosialisme Marxis. Konsep sosial dan ekonomi menurut Tjokroaminoto adalah Konsep Ekonomi Islam yang mencoba untuk mensinergikan realitas sosial masyarakat Indonesia dan jejak Rasulullah. Asumsi utama HOS Tjokroaminoto adalah bahwa manusia tidak hidup untuk diri sendiri ataupun hanya untuk relasi sosial semata. Lebih dari itu, kehidupan sosial ekonomi Islam manusia sebagai khalifatullah fil ardh harus dibangun dari rujukan Al Qur’an Surat 51 ayat 56 sebagai koridor utama, yaitu pergaulan hidup dan keterikatan sosial untuk mengejar hal yang lebih tinggi, bentuk pengabdian setiap manusia kepada Allah (Abd’ Allah). Demikian Orasi Ilmiah saya.

Terakhir, Setinggi-tinggi Ilmu, Semurni-murni Tauhid, Sepintar-pintar Siasat, begitu kata HOS Tjokroaminoto, Bapak kita semua. Selamat kepada wisudawan/wisudawati semoga dapat menerjemahkan nilai-nilai Kedermawan Islami dan Persaudaraan Islam di bumi Indonesia kita tercinta. Mohon maaf bila ada salah.

Marhaban Yaa Ramadhan
Astghfirullahal adzim,
Billahittaufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh



[1]Contoh konkrit, murabahah ditengarai beberapa akademisi dan praktisi belum berwajah Islami karena dibayangi aktivitas riba di lapangan. Tetapi Data Statistik Perbankan Syari’ah Januari 2007 menunjukkan komposisi murabahah per Desember 2006 mencapai 61,75% dan per Januari mencapai 61,76% (12,487 triliun rupiah). Kecenderungan tahun 2007 memang mengalami penurunan daripada komposisi per desember 2005 yang mencapai 62,3%. Tetapi bila dilihat dari nilai rupiah terlihat kenaikan dari 2005, yaitu 9,487 triliun rupiah, menjadi 12,624 triliun rupiah pada 2006. Meskipun arah menuju penerapan sistem mudharabah maupun musharakah juga mulai banyak diinginkan. Hal itu terlihat dari jumlah pembiayaan mudharabah 2005 mencapai 3,123 triliun rupiah dan 2006 menjadi 4,062 triliun rupiah. Tetapi bila dilihat dari prosentase, pembiayaan mudharabah mengalami penurunan dari 2005 sebesar 20,5% menjadi 19,87% pada 2006 dan turun kembali pada Januari 2007 yaitu sebesar 19,82%. Jumlah pembiayaan musharakah tahun 2005 mencapai 1,898 triliun rupiah menjadi 2,335 triliun rupiah pada 2006. Bila dilihat berdasarkan prosentase, pembiayaan musharakah mengalami penurunan dari 12,5% pada 2005 menjadi 11,42% pada 2006.

[2]Qardh selama ini dipahami hanya sebagai mekanisme atau sistem pembiayaan bersifat sosial (qardhul hassan) untuk UKM atau konsumtif. Padahal bila kita lihat lebih jauh landasan tradisi sosiologis qardh sebenarnya lebih dekat dengan sistem pinjaman yang jelas-jelas menerapkan keseimbangan keuntungan (profit) dan kepentingan sosial.

[3]Secara historis, muzara’ah dan musaqah lebih ditekankan Rasulullah di masa Madinah daripada sistem musyarakah maupun mudharabah. Sistem Muzara’ah dan Musaqah digunakan Rasul untuk menggiring pemikiran Muhajirin agar lebih seimbang dan utuh konsep ekonominya, yaitu keseimbangan produksi-intermediasi-retail.

3 thoughts on “EKONOMI ISLAM DALAM BINGKAI PEMIKIRAN HOS TJOKROAMINOTO

  1. Pingback: Tokoh dan Pemikiran Ekonom Indonesia | cahyapratamakw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s