Islam dan Nasionalisme: Pandangan HOS Tjokroaminoto

ISLAM DAN NASIONALISME

Oleh: HOS Tjokroaminoto

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imran: 104)

 

Apabila benar berita-berita yang kita dengar, baik dari yang kita kenal maupun dari surat kabar Islam maupun non Islam, terutama mengenai tulisan yang dimuat di Fadjar Asia, tulisan saudara tuan Ahmad Hilmy, seorang jurnalis Muslim terpandang, maka menjadi jelaslah cepat atau lambat, kelompok yang berkuasa di Turki, yakni kelompok Kemalis, senantiasa berusaha dengan zalimnya mereduksi kekuatan-kekuatan Islam. Kelompok Kemalis telah mereduksi kekuatan Islam yang telah berabad-abad menjadi sumber kekuatan dan pedoman hidup jutaan rakyat di Turki. Mereka dengan keras bahkan kasar meletakkan Islam di belakang dan meletakkan cita-cita Asing (baca: Barat) di depan, yaitu cita-cita “kewadagan” (materialisme).

Sesungguhnya kita juga telah menegur dengan keras faham dan perilaku para Kyai dan Mullah yang berpandangan sempit serta bertentangan dengan akidah Islam sebagaimana telah ditetapkan dan di-ushwah-kan Nabi Yang Suci, bahkan menjalankan Islam sesuai kemauannya sendiri. Meskipun begitu kita lebih keras tegurannya pada kelompok Muslimin Turki yang melakukan pemberontakan dan melakukan apapun seperti dikatakan oleh Tuan Hilmy sebagai: Menghalalkan segala sesuatu yang Diharamkan Islam.

Kita tidak membantah, bahkan memuji, apabila Nationale Vergadering Toerki, yang pasti banyak dipengaruhi kelompok Kemalis, membuat aturan-aturan mengenai Poligami yang  sesuai dengan ketentuan Islam, sebagai suatu langkah untuk meyakinkan tidak terlanggarnya “kemauan” ajaran Al Qur’an mengenai perkara itu (Poligami). Kita memuji dari jauh, gerakan perubahan Kaum Kemalis untuk merubah pakaian perempuan Turki yang membungkus seluruh tubuhnya hingga hanya matanya saja yang tidak tertutup. Hal itu dilakukan agar mengindahkan cara berpakaian sesuai ajaran Islam, kaum istri dapat beraktivitas sebagai manusia yang terhormat serta mengikuti contoh para istri di jaman Islam terdahulu, yang bukan hanya menolong kaum lelaki yang gugur di medan perang, tetapi juga ambil bagian bahkan menjadi pahlawan di arena peperangan.

Kita tidak menolak usaha Kaum Kemalis dalam penggunaan topi khas Turki yang harus digunakan oleh setiap laki-laki di Turki. Perbuatan itu bukanlah sesuatu yang menyalahi Islam, karena tanda Islam atau simbol Muslim bukanlah pakaian. Topi bukanlah suatu perkara yang amat penting untuk memajukan pemikiran persamaan, kebangsaan. Tetapi, sebagaimana telah kita laksanakan di tahun 1925, kita tidak setuju atas semua usaha Kaum Kemalis untuk men-Turki-kan setiap ucapan di segenap aktivitas Shalat terutama sekali lafal surat Al Fatihah.

Sekarang kita berdiri melakukan protes dengan seluruh jiwa raga kita, karena Agama Islam dihapuskan di Turki, sebagaimana ditegaskan di akhir tulisan Tuan Ahmad Hilmy: “Agama Baru (di Turki) saat ini adalah Penyembah Setan.”  Berdasarkan tulisan Tuan Ahmad Hilmy itu pulalah kami mengajukan pertanyaan: “Itukah hasil Nasionalisme Kaum Kemalis?”

Apabila kita berfikir bahwa sepanjang faham yang umum diakui setiap orang, nasionalisme itu hanyalah masalah pemikiran, bahwa nasionalisme adalah sebuah kesepakatan atas kesepahaman untuk menjadi Satu Bangsa, bahwa nasionalisme itu adalah perasaan bersama atas suatu “Natie” (nation), yang apabila hal itu telah direalisasikan, mereka memiliki organisasi politik yang disebut “Staat” (state), maka sungguh tersesatlah Nasionalisme Kaum Kemalis, karena dengan Nasionalisme itu menjadi penyebab terancamnya Agama Islam di Turki. Nasionalisme semacam itu adalah nasionalisme yang telah menyalahi substansinya dan bahkan telah melampaui makna nasionalisme itu sendiri, dan bahkan telah berubah menjadi penyakit “modernisme” yang hanya mengakui “kewadagan” (materialisme) saja.

Di Indonesia sendiri, yang saat ini rakyatnya sedang memulai dan belajar serta membangkitkan jiwa nasionalisme, terlihat pula tanda akan menggiring nasionalisme menuju arah yang tidak benar. Beberapa saudara kita yang mengaku dirinya Muslim berkata: “Sekarang kami hendak menjadi nasionalis terlebih dahulu. Apabila negeri ini telah merdeka, maka kami akan berusaha mengatur pemerintahan berdasarkan Islam”. Jelas sekali hal tersebut merupakan perasaan nasionalisme sesat dalam pandangan Islam!

Ada pula saudara kita yang mengaku beragama Islam tetapi apabila mereka hendak berbicara di vergadering-vergadering, tidak suka mengucap “salam” menurut adat kebiasaan Muslim. Dan apabila di vergadering mereka mendengar ucapan salam dari seorang pembicara Muslim, mereka tidak menjawabnya. Padahal sebagaimana telah jelas di Qur’an Surat An-Nisa’: 86 Allah Ta’ala memerintahkan: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

Ada pula beberapa saudara yang mengaku beragama Islam tetapi dalam ber-nasionalisme mereka bersikap “neutraal” terhadap semua agama bahkan kepada agamanya sendiri (Islam!). Sungguh tersesatlah nasionalisme yang demikian itu bagi kita sebagai orang Muslim. Oleh karena itu, agar tidak makin jauh kesesatan nasionalisme seperti itu dalam dunia Islam kita, akan kami jelaskan apa itu Nasionalisme dalam Islam.

 

Nasionalisme dalam Islam

Apabila patriotisme (adalah sumber dari kelahiran nasionalisme) merupakan sifat mencintai negeri dan tanah tumpah darah kita, maka Nabi kita Muhammad SAW itulah Patriot dan Nasionalis terbesar yang pernah ada di antara umat manusia. Bukti-bukti mengenai jiwa Patriotisme dan Nasionalisme telah jelas, dan apabila diperlukan, nanti akan dijelaskan dan diuraikan lebih jauh dalam bentuk tulisan yang lebih panjang.

Sesungguhnyalah nasionalisme, apalagi patriotisme, adalah suatu perasaan yang sangat mulia dalam pandangan Islam, sebagaimana di-ushwah-kan oleh Nabi Yang Suci kepada kita. Akan tetapi Nasionalisme dan Patriotisme kita tidak boleh menjadi sebab bencinya serta saling bermusuhan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, karena yang satu hendak menaklukkan atau merusak hak-hak bangsa lainnya, tidak boleh menjadi rintangan jalan menuju cita-cita Monotheisme-Monohumanisme (Persatuan yang dilandasi pada Allah Yang Esa dan Kesatuan Umat Manusia), sebagai yang dikehendaki dalam Islam dan mencegah umat Islam dalam “Kemusyrikan”. Patriotisme dan Nasionalisme adalah tanda-tanda hidupnya suatu Umat, sedang Kemerdekaan Nasional wajib kita capai sebagai salah satu syarat menjalankan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan penghidupan. Lagi pula, apabila kita tidak memiliki kemerdekaan nasional, kita tidak akan memiliki daya dan upaya mencapai cita-cita: Kesatuan Umat Manusia.

Islam bukan hanya suatu aturan yang mengatur hubungan antara Manusia dengan Allah, tetapi juga merupakan suatu aturan yang lengkap tentang hubungan Manusia dengan Manusia lainnya, suatu organisasi sosial, bentuk bangunan keadaban, dan suatu “kebangsaan” yang lebih luas daripada paham kebangsaan yang biasa itu… Islam itulah cita-cita kita yang tertinggi, sedang Nasionalisme dan Patriotisme itu adalah sebagai tanda-tanda hidup kita agar sanggup melaksanakan Islam dengan seluas-luas serta sepenuh-penuhnya.

Pertama-tama kita adalah seorang Muslim, dan dalam ke-Musliman itulah Jiwa Nasionalis dan Patriot untuk berjuang menuju kemerdekaan negeri tumpah darah kita, tidak hanya dalam perkataan hebat di vergardering saja, tetapi pada tiap-tiap saat bersedia pula kita mengorbankan segala apa yang ada pada diri kita untuk mencapai Kemerdekaan Tumpah Darah kita. Dan, sebagai seorang Muslim menjadi anggota suatu partai seperti yang dikehendaki Allah Ta’ala, yaitu partai yang mengedepankan pada kebaikan serta kebenaran dan mencegah pada yang munkar (ummatun yad’uuna ilalkhairi waya’muruuna bil ma’rufi wa yanhauna ‘anilmunkar). Begitulah sifat Partai dimana kita telah menjadi anggota sejak kelahirannya hingga saat ini, yaitu Partai Sarekat Islam Indonesia.

 

*Disadur dari koran Fadjar Asia 14 Zulhijah 1347 – Jum’at – 24 Mei 1929. Tulisan ini telah disesuaikan (semoga dan Insya Allah tanpa merubah makna dan substansi isi) dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) menurut Bahasa Indonesia yang baik dan benar.    

Akuntansi Kritis “Rasa” HOS Tjokroaminoto

Selama ini berfikir kritis selalu berkiblat pada pemikiran Eropa seperti Horkheimer atau  Habermas lewat Critical Thought-nya German Ideology atau Marx-Engels lewat Materialisme Dialektik Historisnya, atau yang lain seperti Gramsci misalnya. Pendekatan kritis lebih baru ada itu Pierre Bourdieu  atau Foucault, dan lainnya. Kalau di Akuntansi ada Tony Tinker, Bryer atau Puxty, dan lainnya. Saya tidak melihat berfikir kritis seperti itu kecuali hanya melakukan “copy paste” dari tokoh-tokoh Barat, dan kita seperti tidak berdaya atas serangan Orientalisme Berfikir yang  menjangkiti Ke-Indonesia-an kita. Mengapa tidak menggali langsung dari tokoh-tokoh nasional? Saya menganggap tokoh-tokoh seperti Hidajat Nataatmadja, Sudjatmoko, Armahedi Mahzar, Kuntowijoyo, Kahrudin Yunus, Hamka, atau yang akan saya kupas sekarang HOS Tjokroaminoto pemikirannya tidak kalah dan bahkan “lebih” cerdas dari Eropa atau Barat Sentris.

Kali ini, setelah sebelumnya mencoba menggali pemikiran Hidajat Nataatmadja, saya menggali lebih dalam mengenai pemikiran HOS Tjokroaminoto untuk mendesain akuntansi Indonesia, terutama gagasan saya ke depan mengenai Akuntansi Pertanian. Tulisan ini (dipresentasikan pada acara ACCOUNTING RESEARCH TRAINING SERIES 5 – Paradigma Kritis, diadakan oleh Program Doktor Ilmu Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, tanggal 22-23 Januari 2014) lebih dekat ke metodologi riset menggunakan HOS Tjokroaminoto untuk membangun Islamic Farm Tjokrounting, yaitu Akuntansi Pertanian Islami lewat gagasan pemikiran jenius Sang Raja Tanpa Mahkota, Sang Heru Tjokro. Selamat menikmati. Artikel lengkap silakan klik link di bawah ini: http://ajidedim.lecture.ub.ac.id/files/2014/01/ajidedim_arts5.pdf

SJARIKAT ISLAM PENDIRI MAJLIS OELAMA INDONESIA – MOI.

share dari facebook ahmad mansyur suryanegara…

Politik penulisan Sejarah Indonesia, masa Orla dn Orba, dgn deislamisasinya, menjadikan peran SJARIKAT ISLAM sbg pendiri pertama MAJLIS OELAMA INDONESIA – MOI, terlupakan dn ditiadakan. Apalagi dlm Diorama Monumen Nasional, SJARIKAT ISLAM ditiadakan di dlmnya. Padahal yg pertama mensosialisasikan istilah n a s i o n a l adalah SJARIKAT ISLAM. Dikenalkan sbg nama kongresnya, N A T I O N A L CONGRES CENTRAL SJARIKAT ISLAM – NATICO ( Juni 1916) di Bandung.

Pengruhnya Indische Partij (1912) yg didirikan di Bandung oleh DOUWES DEKKER SETIABOEDI berubah menjadi National Indische Partij (1919). Kemudian BUNG KARNO menantu Oemar Said Tjokroaminoto, sebelas tahun kemudian mendirikan di Bandung Perserikatan Nasional Indonesia (1927). Politik penulisan sejarah masa Orla, PNI dinilai sbg pelopor pertama pengguna istilah nasional. Ini jelas deislamisasi, meniadakan Islam.

Kondisi nasional sesudah Perang Dunia I (1914-1919), kalangan ulamanya terpropokasi oleh pem. Klonial Belanda, terjebak dgn masalah Furuiyah. Masalah tuntutan Indonesia Merdeka atau self government menjadi terbelokkan dlm adu kebenaran Fikiyah.

HADJI AGOES SALIM membangun kesadaran kesatuan kejuangan ulama dlm satu wahana MAJLIS OELAMA INDONESIA. Upajanya berhasil sbg keputusan KONGRES PARTAI SJARIKAT ISLAM di Kediri, 27-30 September 1928. Sebulan sebelum Kongres Pemuda Oktober 1928.

Penggunaan istilah INDONESIA, juga dipelopori pula oleh SJARIKAT ISLAM. Semula istilah ini dipopuler oleh Bastian dari Earl dan Logan, di kalangan sarjana Belanda. Saat itu Dr SOEKIMAN WIRJOSANDJOJO sbg pimpinan Indische Vereniging di Belanda diubahnya menjadi Perhimpunan Indonesia.
Sepulangnya ke tanah air,SJARIKAT ISLAM sdh berubah jadi PARTAI SJARIKAT ISLAM (1923) Dr SOEKIMANbergabung di dalamnya. Dr SOEKIMAN bergabung ke PARTAI SJARIKAT ISLAM dn diubahnya menjadi PARTAI SJARIKAT ISLAM INDONESIA.

Dari sinilah menurut AK Pringgodogdo dalam Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia (1960) dinyatakan Kongres Sjarikat Islam di Kediri (1928) memutuskan didirikannya MADJELIS ULAMA INDONESIA – MUI. Jadi pada September1928 MAJLIS OELAMA pun sudah menggunakan pula istilah INDONESIA. Tapi dituliskan nya b u k a n oleh SJARIKAT ISLAM atau MAJLIS OELAMA INDONESIA. Melainkan oleh KONGREA PEMUDA Oktober 1928. Deislamisasi penulisan
Sejarah Indonesia.

Pada masa Orde Baru, DR KHEZ MUTTAQIEN menyusul mendirikan MUI di Bandung. Sedangkan pusatnya baru menyusul kemudian di Jakarta dipimpin oleh PROF DR HAMKA.
Penulisan sejarah MUI yg sekarang pun melupakan yg paling pertama pendiri MAJLIS OELAMA INDONESIA – MOI adalah HADJI AGOES SALIM dari SJARIKAT ISLAM pada 30 September 1928.

TJOKROAMINOTO DAN PENDIDIKAN: Moeslim Nationaal Onderwijs

Moeslim Nationaal Onderwijs

Oleh: Dala Mukti


“…………..Anak-anakku semuanya, kalau kamu sudah dapat pendidikan Islam dan kalau kamu sudah sama dewasa, ditakdirkan Allah SWT yang maha luhur, kamu dijadikan orang tani, tentu kamu bisa mengerjakan pertanian secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi saudagar, jadilah saudagar secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi prajurit, jadilah prajurit menurut Islam; dan kalau kamu ditakdirkan menjadi senopati, jadilah senopati secara perintah Islam. Hingga dunia diatur sesuai dengan azas-azas Islam…………………………..” Amanat Alm HOS Tjokroaminoto kepada murid murid sekolah Jogjakarta, 24 Agustus 1925

Dewasa ini Pendidikan Nasional telah menuai prestasi yang belum pernah dicapai oleh era sebelumnya, barangkali…….. Sekolah sekolah bertaraf internasional bermunculan di mana-mana, baik itu negeri maupun swasta. Walaupun banyak yang berkeluh kesah bahwa ini merupakan suatu program pengkastaan pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai suatu komoditas, tak urung sekolah sekolah ini telah melahirkan lulusan yang memiliki kelebihan dari lulusan pada umumnya. Walaupun lulusan tersebut hanya segelintir saja dari seluruh prosentase lulusan di Indonesia, umumnya hanya kelompok yang yang memiliki kelebihan dari segi finansial karena seperti kita ketahui biaya untuk dapat memperoleh pendidikan di sekolah tersebut sangatlah besar. Namun demikian, satu dua masih ada sekolah yang memberikan penekanan pada prestasi murid, bukan pada kemampuan membayar uang sekolah, seperti misalnya Sekolah Bani Hasyim di Malang. Pula pencapaian prestasi murid-murid kita dalam Olympiade Internasional patut kita acungi jempol. Namun……. Satu hal yang membuat gamang penulis adalah prestasi prestasi tersebut lebih kepada hal-hal yang bersifat kognitif.

Balai Pendidikan dan Pengajaran Tjokroaminoto Pada sekitar tahun 1930an banyak berdiri Balai Pendidikan dan Pengajaran Tjokroaminoto. Sekolah ini didirikan oleh afdeling afdeling (cabang) Partai Syarikat Islam Indonesia. Tidak saja mengajarkan kepandaian akal namun juga mendidik dan menanamkan keutamaan budi pekerti, kemerdekaan dan kesholehan serta lain-lainnya. Kurikulum BPP Tjokroaminoto, berangkat dari satu tulisan yang berjudul “Moeslim Nationaal Onderwijs” karangan Jang Oetama HOS Tjokroaminoto (ket pen.- Majelis Tahkim (Kongres Nasional) PSII ke 21 pada tahun 1935, memutuskan memberikan gelar “Jang Oetama” pada HOS Tjokroaminoto – untuk selanjutnya saya tulis marhum jang oetama)

Marhum jang oetama mengatakan : “Dimana asas-asas Islam itu adalah asas asas yang menuju Democratie dan Socialisme (Socialisme sejati menurut Islam), dan asas asas itu juga menuju maksud akan mencapai cita-cita kemerdekaan Ummat dan Kemerdekaan Negeri Tumpah Darah, maka kalau kita kaum Muslimin mendirikan sekolah-sekolah kita sendiri, tak boleh tidak pengajaran yang diberikan didalamnya haruslah pengajaran yang mengandung pendidikan akan menjadikan Muslim yang sejati dan bersifat nasional dalam arti kata : Menuju maksud akan mencapai cita cita kemerdekaan Ummat.”

Moeslim Nationaal Onderwijs Pada tahun 1925, marhum jang oetama menulis suatu buku yang berjudul Moeslim Nationaal Onderwijs. Buku ini menerangkan bahwa Pendidikan dan Pengajaran bagi kaum muslimin di Indonesia, selain mengajarkan kepandaian aqal, harus pula menanamkan asas asas Islam, antara lain:

1. Menanamkan benih kemerdekaan dan benih demokrasi. Yang telah menjadi tanda kebesaran dan tanda perbedaan Ummat Islam besar pada zaman dahulu.

Dalam majalah “Sendjata Pemoeda” , sebuah majalah intern barisan pemuda PSII, SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderijs/ Angkatan Pandu) dan Pemuda Muslimin Indonesia, marhoem jang oetama mengatakan, “Tidak bisa manusia menjadi utama yang sesungguh-sungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, kalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya. Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang sedemikian itu, hanyalah bias tercapai karena “TAUHID” saja, tegasnya menetapkan lahir bathin : tidak ada sesembahan selain Allah sahaja………”

Sekitar awal tahun 1970an, penulis sempat bertemu dengan putera marhum jang oetama, yakni H. Anwar Tjokroaminoto. Dari beliau penulis mendapat ceritera bahwa, ketika beliau mendapatkan ijasah sekolah, beliau dengan bangga mempertunjukkan ijasahnya pada ayahandanya, marhum jang oetama HOS Tjokroaminoto. Sejenak marhum jang oetama memperhatikan ijasah tersebut kemudian berkata : “Kalau kamu mau memburuh, maka sebaik baik majikan adalah Allah ta’ala”. Selepas habis mengucapkan kalimat tersebut, marhum jang oetama lantas merobek robek ijasah yang masih hangat, baru didapatkan puteranya H. Anwar Tjokroaminoto.

Berbagai perasaan berkecamuk dan bergumul dalam diri Anwar muda, kaget, cemas, sedih, marah, kecewa bahkan takut !. Ingin menangis namun air mata tidak keluar, ingin marah namun bakti pada orang tua mencegahnya. Kemudian marhum jang utama menugaskan Anwar untuk membangun Partai Syarikat Islam Indonesia di Sumatera. Anwar di tempatkan di Manggala, suatu daerah terpencil di Lampung, saat itu masih berupa hutan, membangun pemukiman dan mendirikan afdeling (cabang) Partai (syarat pendirian afdeling minimal sepuluh orang anggota bai’at/ anggota yang sudah paham nilai-nilai perjuangan partai). Begitu pula kejadiannya dengan putera marhum jang oetama lainnya yakni H.Harsono Tjokroaminoto, beliau kemudian ditugaskan di Bolaang Mangandauw Sulawesi Utara.

2. Menanamkan benih keberanian yang luhur, benih keichlasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada yang benar (haq), yang telah menjadi tiap tiap orang dan tabiat masyarakat Islam pada zaman dahulu;

3. Menanamkan benih peri kebathinan yang halus, keutamaan budi pekerti dan kebaikan perangai, yang dulu telah menyebabkan orang Arab penduduk laut pasir itu menjadi bangsa tuan yang halus adat lembaganya dan menjadi penanam dan penyebar keadaban dan kesopanan;

W. Wondoamiseno menceritakan bahwa marhum jang oetama memberi wejangan kepada sekalian kader-kadernya termasuk W Wondoamiseno sebagai berikut: “Kalau kamu mau menjadi pemimpin rakyat yang sungguh-sungguh, lebih dahulu kamu harus cinta betul betul kepada rakyat, , korbankanlah jiwa raga dan tenagamu untuk membela kepentingan rakyat seperti membela dirimu sendiri, sebab kamu adalah satu bagian daripadanya. Dan cintailah kepada kebenaran dalam segala usahamu, tentu Allah akan menolong kamu. Jangan sombong dan jangan bercidera janji. Jangan membeda-bedakan bulu, barangsiapa datang kepadamu terimalah dengan baik dan hormat, meski fakir dan miskin sekalipun. Kalau kebetulan kamu tidur, bangunlah dengan hati yang ikhlas, jangan menyesal sekalipun yang datang tidak membawa rejeki bagimu. Percayalah Allah sifat murah dan kasih sayang pada hambanya. Tetapi…….. kalau kamu berhadapan dengan lawan , baik siapa dan dari bangsa apapun juga, harus kamu tunjukkan sikap sebagai satria yang gagah berani, janganlah sekali-kali suka merendahkan diri. Seorang pemimpin harus mempunyai rasa perasaan bahwa dirinya lebih tinggi dan lebih berharga derajatnya dalam pandangan rakyat dan juga dalam pandangan Allah. Percayalah ………….. Allah tidak akan sia siakan segala usahamu sebagai pemimpin rakyat, asal hatimu jujur dan ikhlas. Insya Allah pengaruh akan datang dengan sendirinya. Ilmu boleh kamu cari, tapi kepercayaan adalah tergantung atas kejujuran dan keichlasan hatimu sendiri. Kalau kamu berjanji tepatilah, jangan bercidera !”.

4. Menanam benih kehidupan yang shaleh sebagai yang dulu telah menjadi sebab mashur nama Ummat Islam; Lebih lanjut lihat karya marhum jang oetama berjudul “Reglement Umum bagi Ummat Islam”

5. Menanamkan rasa kecintaan terhadap tanah tumpah darah dengan jalan mempelajari cultur dan adat istiadat bangsa sendiri.

Banyak orang yang tidak tahu dan tidak mengira bahwa marhum jang oetama adalah juga seorang seniman. Beliau adalah seorang yang ahli dalam seni karawitan. Pandai menabuh gamelan dan memainkan kendang. Bahkan tari jawa yang sangat tinggi nilai seninyapun dikuasainya. (tari jawa merupakan syarat kelulusan bagi murid-murid OSVIA dari kalangan priyayi) Beliau sering ikut dalam pertunjukan wayang orang, memerankan tokoh idolanya yakni Hanoman. Dalam lakon Ramayana kerap dipertunjukkan perkelahian antara Hanoman dan Raja Dasamuka. Raja Dasamuka (sepuluh muka) dalam ibaratnya adalah sang Kapitalisme angkara murka. Siapapun lawan yang dihadapinya pasti akan dilibas habis; semua manusia dijajah olehnya. Namun ketika berhadapan dengan Hanoman, dapatlah dipatahkan kekuatannya sehingga rebahlah sang Raja Dasamuka bahkan hingga menemui ajalnya.

Seperti keinginan beliau yang diungkapkan dalam buku tafsir program azas dan program tandhim yaitu rebahnya internasional kapitalisme dan internasional imperialisme Selain kepada seni tari dan seni gamelan, tiada kurang pula minat dan perhatian beliau akan seni suara. Tembang jawa, atau yang dikenal dengan Mocopat sangat disukainya. Bahkan di usia tuanya setelah beliau menjadi pemimpin ummat yang besar, beliau masih suka menembangkan mocopat dikala senggang. Tembang jawa, biasanya mengandung kiasan, petuah ataupun sindiran. Indah susunan katanya, berirama lemah gemulai, tetapi mengandung isi yang dalam, tak jarang merupakan sindiran yang tajam. Benar-benar merupakan suatu karya sastra yang tinggi nilai seninya.

Perhatikan pula cara berpakaian beliau. Pada masa itu cara berpakaian memeperlihatkan setiap kelas dalam masyarakat. Sarung adalah pakaian kaum santri yang termasuk dalam kelas inlander, beskap dan kain panjang adalah pakaian untuk kaum priyayi, sedangkan dasi dan jas adalah pakaian untuk bangsa eropa. Marhum jang oetama lebih sering mengenakan beskap yang dipadu dengan kain sarung dimana untuk tutup kepalanya beliau mengenakan peci (beliau tidak pernah lepas dari tutup kepala-pen). Lain waktu dikala harus hadir dalam pertemuan dengan kalangan penguasa (seperti dalam volksraad) beliau mengenakan dasi namun tutup kepalanya blangkon. Alm Moh Roem menyebut cara berpakaian beliau sebagai revolusioner. Demikianlah cara berpakaian beliaupun mempertunjukkan kecintaan beliau pada rakyat dan negera tumpah darah Indonesia. Penutup

Pendidikan sebagai suatu anasir dari sebuah kebudayaan, bahkan sebagai salah satu pilar dari peradaban, sangat diperhatikan oleh marhum jang oetama. Kita dapat melihat dalam tulisan tulisan beliau seperti “Culture dan Adat Islam” dan juga dalam karya masterpiece beliau “Tafsir Program Azas dan Program Tandhim” Sejatinya masih panjang ulasan tentang “Moeslim Nationaal Onderwijs” Namun terus terang penulis sudah mengantuk.

Namun ingin penulis sampaikan wejangan beliau yang ditulis dalam buku “Islam dan Socialisme” sebagai berikut: “………………kalau ada orang Islam mendirikan sekolahan (madrasah) tinggi, pertengahan atau rendah, dengan cuma memberi pengajaran untuk kepandaian ‘aqal saja, tetapi di dalam hatinya anak-anak tidak ditanamkan benih kemerdekaan dan benih democratie, yang menjadi tanda kebesaran dan tanda perbedaannya Ummat Islam besar pada zaman dulu itu, dan di dalam hatinya anak-anak tidak pula ditanamkan benihnya keberanian yang luhur, keichlasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada barang yang benar, yang telah menjadi tabi’atnya pergaulan hidup Islam bersama pada zaman dulu, — dan murid-murid tidak juga diberinya pengajaran yang mendidik kebhatinan yang halus, keutamaan budi dan kebaikan perangai, yang dulu telah membikin orang arab penduduk lautan pasir menjadi bangsa tuan yang halus ‘adat lembaganya’ dan menjadi tukang menanam keadaban dan kesopanan, — dan juga di dalam hatinya murid-murid tidak ditanam bijinya penghidupan yang saleh dan sederhana, sebagai yang dulu sudah menjadikan mashur namanya ummat Islam, — sekolah-sekolah yang hanya memberi kepandaian yang “dingin”, “tidak hidup” dan akhrnya hanya menuntun kepada materialisme, sekolah-sekolah yang demikian itu bagi ummat Islam lebih baik tidak ada saja!”

Semoga Allah memercikkan pada kita ilmu, karomah serta hikmah yang dahulu pernah DIA berikan pada marhum jang oetama HOS Tjokroaminoto. Shalawat serta salam bagi junjungan kita Rasulullah beserta para sahabat dan keluarga beliau. Semoga marhum jang oetama tersenyum melihat kita mempelajari pemikiran-pemikiran beliau, dan Allah ta’ala menambah nambah jariah pada beliau atas ilmu yang diwariskan pada kita. Amin. Billahi fi sabilil Haq.

Dala Mukti

Sumber bacaan : “Moeslim Nationaal Onderwijs”- HOS Tjokroaminoto, “Islam dan Socialisme”-HOS Tjokroaminoto,”Tafsir Program Azas dan Program Tandhim”-HOS Tjokroaminoto, “Culture dan ‘Adat Islam” – HOS Tjokroaminoto, “HOS Tjokroaminoto hidup dan perjuangannya bahagian I dan II” – Amelz, Literatur lain dari PSII, Cerita dari “Alm H. Anwar Tjokroaminoto”,” Cerita dari Alm. H. Ahmad Dainuri Tjokroaminoto”

MEMIMPIKAN SIMPOSIUM NASIONAL TJOKROAMINOTO

Saya memimpikan pertemuan para sahabat-sahabat berdiskusi dan menulis tentang Pak Tjokro.  Kapan ya? Masalahnya banyak, siapa yang ikhlas datang dan menulis tentang beliau, siapa yang mau cari sponsor dan mensponsorinya. Andai….

BAKUR: SITUS KELAHIRAN PAK COKRO

Sabtu lalu, tanggal 12 Juli 2008 saya mendapat hadiah unik  dari mahasiswa FIA Universitas Brawijaya (yang kebetulan sedang melakukan penelitian tentang analisis jabatan organisasi di tempat saya bekerja) berupa foto-foto “kemungkinan” situs kelahiran HOS. Tjokroaminoto (Pak Cokro). Mahasiswa itu aslinya juga dari Bakur, Madiun. Menurutnya, masyarakat Bakur percaya bahwa tempat yang sekarang berdiri masjid dan KUA merupakan kelahiran Pak Cokro. Meskipun, menurut mahasiswa itu masyarakat sudah banyak yang tidak tahu bahwa di sana adalah tempat kelahiran tokoh besar Indonesia. Hanya beberapa orang saja, terutama orang tua, yang tau riwayat tempat tersebut. Kalaupun tahu, ya  hanya “kemungkinan”. Ironis memang. Tapi tak apalah. Suatu saat saya perlu berkunjung ke sana sendiri dan mencoba menelusuri dari catatan-catatan sejarah, agar pada akhirnya jelas di mana letak tempat beliau dilahirkan secara pasti. Menurut salah satu informasi yang saya dapatkan dari buku Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, karangan Drs. Mansur, MA. (Penerbit Pustaka Pelajar, 2004; halaman 13) Pak Cokro lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur tahun 1882.

Berikut saya tampilkan beberapa foto tersebut:

PENELEH VII No 29-31 SURABAYA: RUMAH PERJUANGAN

Menarik sekali berita di Kompas hari ini, 14 April 2008, mengenai rumah Pak Tjokro di Peneleh VII/29-31. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mampir ke rumah itu. Rumah itu memang bisa jadi simbol kebangkitan nasional. Rumah Pak Tjokro dapat dikatakan sebagai salah satu simbol Kebangkitan Nasional, karena memang di situlah pada tahun 1912, terjadinya perubahan Sarekat Dagang Islam menjadi Partai Sarekat Islam yang dimotori Pak Tjokro. Rumah itu juga merupakan salah satu tempat Pak Tjokro melakukan perkaderan, untuk menggodok putra terbaik bangsa, Soekarno. Di bawah ini foto rumah Pak Tjokro yang saya ambil dari Koran Kompas:

 

rumah pak tjokro

Rumah tersebut sekarang telah menjadi situs sejarah nasional, meski keinginan para ahli waris Pak Tjokro belum terealisasi, yaitu agar menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Lebih menarik lagi sebenarnya adalah keinginan dari para ahli waris untuk mengembangkan rumah tersebut menjadi Perpustakaan. Ide yang brilian itu. Siapa yang mau mendukung? :D 

Menurut Kompas, inisiatif dari keluarga Pak Tjokro agar rumah tersebut dijadikan Museum tampaknya ditanggapi baik oleh Pemkot Surabaya. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Surabaya, Suhartojo, mengungkapkan bahwa pihaknya sepakat untuk menjadikan rumah tersebut sebagai museum. Semoga hal itu segera terwujud ya? Hehehehe…mumpung mau 100 tahun Kebangkitan Nasional ni…

Kritik buat Kompas, kenapa quotation di awal tulisan itu yang katanya sebagai latar belakang Piagam Penghargaan yang diberikan oleh Kelompok Pekerja Sejarah dan SUrabaya Heritage kepada ahli waris Pak Tjokro, sepertinya kasar banget, ya baik sih menunjukkan simbol budaya suroboyoan, tapi itu kan tidak mencerminkan dan menghormati Pak Tjokro sebagai pahlawan nasional. Ya mestinya ada komentar juga yang membangun, bahwa quotation seperti itu perlu diperbaiki, Mohon dalam pemberitaan lainnya nanti juga berhati-hati dalam memberi quotation. Agar tidak jadi stigma yang jelek bagi rumah kebangkitan nasional ya…



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.